Rambah Online, Bisnis UMKM Bisa Tumbuhkan Pendapatan Hingga 80%

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) semakin membidik pasar dari melalui pemanfaatan berbagai fitur bisnis berbasis Internet.

Head of Communications Google Indonesia Jason Tedjasukmana mengatakan para pebisnis yang dapat ditemukan secara online dapat menumbuhkan pendapatan mereka sampai dengan 80% lebih cepat dibandingkan bisnis-bisnis yang masih offline berdasarkan riset Deloitte Access Economics.

“Ada lebih dari 1,2 juta bisnis di Indonesia yang menggunakan Google Bisnisku. Bisnis mereka juga beragam, mulai dari besarnya dan dari berbagai sektor,” katanya kepada Bisnis.com, Jumat (11/5/2018).

Dia menambahkan Google telah menambahkan 280.000 bisnis ke dalam Maps dan Search dalam beberapa tahun terakhir. “Kami harap, angka ini bisa terus bertambah. Kami sangat senang bisa berinteraksi dengan para pemilik bisnis yang bisa sukses dengan bantuan platform daring.”

Selain itu, riset Deloitte mencatat UMKM yang memanfaatkan teknologi digital juga lebih mampu bersaing secara international. UMKM dengan kemampuan online dasar memiliki lebih dari 6% pendapatan yang berasal dari pelanggan mancanegara jika dibandingkan dengan UMKM offline.

Salah satunya, Batik Njawani yang telah memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia agar usahanya dapat hadir secara daring.

Batik Njawani bermula sebagai usaha keluarga kecil-kecilan di daerah Yogyakarta, yang memberikan pelayanan dalam pembuatan suvenir kesenian khas Indonesia. Mulai dari pulpen, gantungan kunci, kipas, hingga hiasan wayang kecil.

Pada 2017, Jajang Nurzamzam mulai terjun ke pemasaran daring karena melihat adanya perubahan yang cepat dari offline ke online.

Berbekal sebuah ponsel pintar, tanpa ada pengalaman dan pendidikan di bidang digital marketing sebelumnya, Jajang mulai sering menggunakan Google Search untuk mempelajari bagaimana caranya go online.

Perlahan, dia mulai membuka toko daring di beberapa marketplace Indonesia. Setelah memanfaatkan Google Search, Jajang  juga membuat situs jejaring gratis dengan Google BisnisKu.

“Batik Njawani ada dari 2010, setelah online 2017, perubahannya drastis, saya baru buka saja ada yang pesan dari Belgia. Pesannya 6.000 gantungan kunci dan 6.000 penjepit rambut,” jelasnya.

Selain Belgia, sejauh ini, peminat produknya lebih dominan datang dari pelanggan luar negeri seperti dari Asia yaitu Malaysia, Singapura.

Jajang mengatakan rata-rata per bulan Batik Njawani bisa menjual sekitar 500 item kerajinan dan nilai omzet rata-rata Rp20 juta per bulan.

“Dari offline dan online juga. Pesannya lebih banyak dari online [ketika] 2017. Online itu lebih prospek, lebih luas, seluruh dunia bisa lihat produk kami,”  katanya.

Sementara itu,  Stephen Khrisna Lucas bersama empat temannya Oktavianus Andika, Ivan Ariwibowo, Yossi Permana, dan Aradea Respati memulai bisnis produk berbahan dasar kulit dengan nama Voyej pada 2010.

Bisnis yang digeluti sejak masa kuliah ini memiliki tantangan tersendiri. Meskipun hanya sebuah tugas kuliah, Lucas mengatakan timnya ingin agar bisnis yang dirintis dapat berkelanjutan.

Voyej hadir dengan modal sekitar Rp40 juta, dimana 70% digunakan untuk produksi dan membeli material. Strategi pendekatan organik dengan komunitas dan digital marketing menjadi pilihan bagi Voyej.

Secara resmi Voyej hadir lewat website online www.voyejstore.com pada 11 Februari 2011 dengan memasarkan produk dompet. “Enam bulan sudah balik modal, [pemasarannya] kami benar-benar online langsung, ada website sendiri, ikut event dan masuk ke The Goods Dept,” katanya.

Voyej menawarkan produk berbahan dasar kulit yang dibuat oleh pengrajin di Yogyakarta. Bahan dasar utamanya adalah natural vegetable tanned leather.

Lucas mengungkapkan strategi lainnya yaitu memperkuat kehadiran mereka dalam komunitas-komunitas serta penggunaan Google Bisnisku  hingga Google AdWords.

Adanya bantuan fitur (tools) tersebut, katanya, banyak orang dapat menemukan produk-produk Voyej secara daring.

Lucas mengungkapkan sekitar 50% transaksi terjadi melalui website mereka. Dimana 50% juga dilakukan pembelian ke toko fisik, untuk itu pihaknya juga memperkuat keduanya baik daring maupun luring.

Kini produk Voyej dapat ditemukan di beberapa offline store di Jakarta dan mulai melebarkan sayapnya ke Singapura sejak 2013 dan Thailand di kawasan wisata.

“Sekarang sudah 100 lebih produk, harga mulai dari Rp100.000-Rp5juta, best selling item dompet pria Rp900.000, segmentasinya premium di 18-24 tahun,” jelasnya.

Bisnis yang dimulai sejak mahasiswa ini kini masih terus berjalan dengan kapasitas produksi di  workshop mereka yang semakin meningkat. “Sekarang orang apa-apa cari info lewat online. Saya merasa di sinilah Google membantu sekali,” katanya.

Data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat lebih dari 3,79 juta pelaku UKM yang memanfaatkan teknologi digital seperti e-commerce.

Sementara itu, paparan Kementerian Koperasi dan UKM pada Januari 2018, mengungkapkan jumlah pelaku UMKM tercatat sebanyak 59,69 juta unit.

About the Author: adminws

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.